Showing posts with label Dunia Binatang. Show all posts
Showing posts with label Dunia Binatang. Show all posts

Thursday, February 04, 2016

Kodok, Pasokannya Semakin Berkurang


Peluang pasar kodok
Keberadaannya menjadi salah satu parameter kondisi lingkungan, tetapi rasanya yang enak menjadikan kodok juga diburu sebagai salah satu bahan pangan. Terlepas dari ketentuan suatu agama tertentu, kodok merupakan komoditas perikanan yang potensial, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Hewan ini sangat digemari, terutama di negara-negara Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia. Ekspor paha kodok dari Indonesia telah dilakukan ke negara-negara diantaranya Belgia, Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, Jepang, Amerika Serikat, Korea, Malaysia, Hongkong, Taiwan, Singapura dan Kanada.
Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara tropis maupun beriklim sub tropis. Tercatat negara-negara Eropa yang telah membudidayakan kodok antara lain: Perancis, Belanda, Belgia, Albania, Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark, Yunani, Amerika Serikat dan Meksiko, sedangkan di Asia meliputi China, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan Hongkong.
Di Indonesia, sumber pasokan kodok berasal dari tangkapan alam dan budidaya. Sentra produksi kodok meliputi wilayah Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Sementara itu, budidaya kodok terutama jenis kodok lembu  telah banyak dilakukan di wilayah Klaten Jawa Tengah, Malang Jawa Timur, Sukabumi Jawa Barat dan  Badung Bali. Uni Eropa beberapa tahun yang lalu pernah mempertanyakan pasokan kodok dari Indonesia karena ukurannya cenderung mengecil. Hal ini terkait dengan isu lingkungan, karena jika pasokan kodok berasal dari hasil tangkapan di alam, berarti populasinya telah semakin berkurang.

Sejarah dan Jenis-jenis kodok
Sejarah kodok tidak diketahui asalnya dan hampir ditemukan di mana-mana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia yaitu kodok lembu atau bullfrog (Rana catesbeiana) berasal dari Taiwan, meskipun kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan. Kodok lembu merupakan salah satu komoditas andalan perikanan untuk tujuan ekspor. Kodok lembu mempunyai beberapa kelebihan diantaranya cepat menyesuaikan lingkungan buatan, lebih jinak dan ukurannya lebih besar daripada kodok lokal.
Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi yang tidak memiliki ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies. Sementara itu, terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat  yaitu:
  1. Rana Macrodon (kodok hijau), yang berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan dan ukurannya  mencapai hingga 15 cm.
  2. Rana Cancrivora (kodok sawah ), hidup di sawah-sawah dan badannya dapat mencapai 10 cm, badan berbercak coklat dibadannya.
  3. Rana Limnocharis (kodok rawa), mempunyai daging yang rasanya paling enak, ukurannya hanya 8 cm.
  4. Rana Musholini (kodok batu/raksasa) mencapai berat sekitar 1.5 kg dan panjang  22 cm.

Pemasaran Kodok

Proses pengolahan kodok hijau menjadi paha kodok atau swike yaitu kodok hidup dipotong kepala, kulit dikupas, isi perut dan jari kaki dibuang sehingga tinggal setengah badan dari punggung ke paha. Pengolahan kodok biasanya dilakukan dua kali yaitu  pada pukul 07.00-09.00, kemudian pukul 13.00 -15.00 WIB.
Jenis kodok yang biasa dijual adalah kodok batu dan kodok hijau yang berasal dari tangkapan. Pengangkutan kodok biasanya dilakukan pada pagi dan sore hari dengan tujuan untuk menjaga kodok agar tetap hidup. Pasokan kodok hidup dilakukan dengan membeli ke pedagang pengumpul yang berasal dari Purwakarta, Majalengka, Cianjur, Garut, Sumedang dan wilayah sekitar Bandung. Jalur distribusi kodok di Kota Bandung dapat diilustrasikan sebagai: pemburu kodok menjual ke pedagang pengumpul; pedagang pengumpul menjual ke pengolah kodok; kemudian pengolah kodok menjual hasil olahannya ke warung makan yang terdapat di Kota Bandung. Sementara itu, jenis kodok batu biasanya langsung dijual dalam keadaan hidup ke pasar tradisional maupun rumah makan, sedangkan kodok hijau terlebih dahulu diolah  yaitu dikuliti dan dibersihkan isi perutnya. Bagian dari kodok yang dikonsumsi adalah paha kodok atau swike. 
Kapasitas produksi pada saat musim puncak kodok yaitu bulan Maret-Oktober  sekitar 100 kg kodok hidup menjadi paha kodok sekitar 50-60 kg, sedangkan pada musim paceklik sekitar 25 kg kodok hidup menjadi paha kodok atau swike sekitar 15 kg.  Harga kodok batu dalam keadaan hidup sekitar Rp. 25.000,-/kg berisi 10-15 ekor, sedangkan jenis kodok hijau sekitar Rp. 12.000,-/kg, namun setelah diolah menjadi swike harganya menjadi Rp. 30.000,-/kg.
Di Kota Semarang, pusat penjualan paha kodok terdapat di Jl. Imam Bonjol yang mulai beroperasi pada pukul 05.00 sampai pukul 06.00. Jumlah pedagang 7 orang dengan volume penjualan rata-rata sekitar 50-200 kg per hari per pedagang. Pedagang kodok ini sebagian besar berasal dari Demak, sedangkan pasokan kodok berasal dari Solo, Salatiga, Ungaran, Kendal dan Temanggung.  Setelah melakukan aktifitas di Jl. Imam Bonjol, pedagang kemudian menjual paha kodok ke Pasar Pecinan Gang Baru.  Pedagang tersebut menerima kodok dengan kondisi sudah dikuliti, kemudian dilakukan pemisahan ukuran dan pemotongan antara bagian paha dengan tembolok.  Bagian tembolok pun dijual sengan harga Rp 5000,-/kg.
Harga kodok di Kota Semarang relatif bervariasi tergantung ukurannya. Untuk kodok ukuran kecil dijual seharga Rp 10.000 – Rp 12.000/kg, ukuran sedang Rp 12.000 – Rp 16.000/kg, ukuran besar Rp 17.000 – Rp 21.000/kg, sedangkan ukuran super besar dijual sekitar Rp. 23.000,-/kg. Kodok ukuran super besar terdapat 4, 9 atau 12 ekor per kilogram,   kodok ukuran sedang sekitar 22 ekor/kg dan kodok ukuran kecil berisi 36 ekor.  Selain itu,   terdapat warung makan swike yang mampu menjual sekitar 10-25 kg perhari dengan pasokan   berasal dari Purwodadi.

Menu masakan berbahan baku kodok
Paha kodok hasil olahan biasanya dijual ke restoran atau warung makan yang kemudian   dimasak  menjadi swike goreng tepung, swike goreng mentega, kuah tauco swike. Dalam satu malam, penjualan paha kodok dapat mencapai 50 kg yang terbagi dalam 4  abang warung tenda. Harga menu masakan  berbahan baku dari paha kodok di warung tenda cukup bervariasi, untuk menu kuah tauco swike sekitar Rp 14.000,- per porsi, sedangkan  swike goreng tepung dan goreng mentega sekitar Rp. 15.000,- per porsi.  

Manfaat kodok
Hewan amfibi seperti kodok  memiliki manfaat bagi manusia dan lingkungan, baik sebagai bahan makanan yang diekspor ke mancanegara, hewan peliharaan dan bahkan dijadikan bahan percobaan di bidang medis  dan kimia. Selain rasanya enak, kandungan gizi yang cukup tinggi, daging kodok juga dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Kandungan gizi paha kodok per 100 gr yaitu protein sekitar 16,4 gr; lemak 0,3 gr; abu 1,4 gr; kalori 73 kkal per 100 gr/ 3,5 oz  ; dan air 81,9 gr.
Selain itu, limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele. Sementara itu, kulit kodok yang telah terlepas dari badannya dapat diproses menjadi kerupuk kulit kodok, sedangkan kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam proses pembuahan buatan.
 Sementara itu, dari sisi ekologi kodok berfungsi sebagai indikator keseimbangan alam dan keberadaannya merupakan salah satu pendukung penting dalam siklus mata rantai makanan. Beberapa jenis kodok yang hidup di sawah berfungsi sebagai predator  rayap dan jenis hama pertanian lainnya. Di negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Kanada, eksistensi kodok saat ini menjadi parameter utama untuk melihat baik atau buruknya kondisi lingkungan hidup mengingat satwa tersebut sangat peka terhadap perubahan.
Apabila kodok bentuk fisiknya sudah berubah seperti ada yang buntung, kakinya enam dan tanda-tanda tidak normal lainnya, hal ini menunjukan bahwa kondisi lingkungan disekitarnya sudah buruk. Meskipun di Indonesia belum cukup signifikan ditemui adanya degradasi fisik pada kodok dalam jumlah besar, namun apa yang ditemui di Eropa, Amerika Serikat dan Kanada itu harus menjadi sinyal serius untuk diantisipasi di Indonesia. Fenomena terjadinya keanehan-keanehan pada kodok semacam itu, harus dijadikan peringatan dini dalam menjaga keseimbangan eksosistem lingkungan. 

Nasib kodok, diantara dua pilihan
Nasib kodok alam adalah pilihan bersama, dilestarikan sebagai penjaga keseimbangan alam atau diburu sebagai komoditas yang menjanjikan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa kodok merupakan hewan amfibi yang berbahaya, menjijikkan, beracun dan hanya mengenal sedikit jenisnya, padahal satwa amfibi ini jenisnya beranekaragam, unik dan bahkan cantik. Saat ini ketersediaan kodok di alam semakin langka akibat pemburuan besar-besaran untuk dikonsumsi manusia. Padahal disisi lain, keberadaan amfibi ini dapat dijadikan bio-indikator untuk mengetahui tingkat pencemaran lingkungan. Hal ini menuntut perhatian lebih sehingga penangkapan kodok  dapat dibatasi. 



Kulit Buaya, Yang Langka Yang Diburu



Buaya merupakan salah satu binatang pemakan daging yang dianggap berbahaya dan memiliki banyak konotasi negatif di masyarakat seperti istilah buaya darat  serta air mata buaya. Namun dibalik sifat ganas dan seram bentuknya, buaya ternyata memiliki nilai ekonomi tinggi terutama kulitnya yang dapat dijadikan produk kerajinan  tas, dompet, sabuk dan lainnya. Dalam bahasa inggris buaya dikenal sebagai crocodile. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di SungaiNil, krokodilos berasal dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’. Mereka menyebutnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebiasaan buaya berjemur di tepian sungai yang berbatu-batu.
Secara umum, buaya hidup pada habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lainnya. Perbedaan habitat hidupnya juga menunjukan perbedaan jenisnya, pada perairan tawar biasanya hidup buaya jenis Crocodylus novaeguineae dan Tomcistoma schlegeli, sementara untuk perairan muara hidup buaya jenis Crocodylus porosus. Makanan utama buaya adalah hewan bertulang belakang seperti ikan, reptil dan mamalia.
Jenis dan Klasifikasi Buaya
Menurut klasifikasinya buaya termasuk dalam Filum Chordata, Kelas Sauropsida, Ordo crocodilia, Famili Crocodylidae dan memiliki 8 genus.  Buaya dari genus Alligator terdiri dari 2 spesies yaitu  Alligator mississippiensis, Alligator sinensis; genus Caiman terdiri dari 3 spesies diantaranya Caiman crocodilus, C. latirostris; genus Crocodylus terdiri dari 12 spesies diantaranya Crocodylus acutus, C. cataphractus; genus Gayialis terdiri dari 1 spesies yaitu Gayialis gangeticus; genus Melanosuchus terdiri dari 1 spesies yaitu Melanosuchus niger; genus Osteolaemus terdiri dari 1 spesies yaitu Osteolemus tetraspis; genus Paleosuchus terdiri dari  2 spesies. Di Indonesia diketahu terdapat 6 jenis buaya yang ditemukan yaitu Crocodylus mindorensis (buaya Mindoro), C. novaeguineae (buaya Irian), C. porosus  (buaya muara), C. raninus (buaya Kalimantan), C. siamensis (buaya air tawar) dan Tomistoma schlegelii (buaya Senyulong).

Pemasaran Kulit Buaya
Kulit buaya merupakan salah satu produk  dengan nilai ekonomis tinggi.  Indonesia telah menjadi pengekspor kulit buaya ke beberapa negara diantaranya Singapura, Jepang, Dubai, Australia, Amerika dan Eropa. Menurut Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan Nomor: SK. 06/IV-KKh/2008 tentang kuota pengambilan tumbuhan alam dan penangkapan satwa liar untuk tahun 2008, jenis buaya air tawar Irian (Crocodylus novaeguineae) yang boleh ditangkap dari hábitat alam sebanyak 15.000 ekor. Sementara itu, menurut Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan Nomor: SK.85/IV/Set-3/2008 tentang pembagian kuota ekspor kulit buaya air tawar Irian dari alam tahap kedua (Periode Juli-Desember) Tahun 2008. 
 
Kulit buaya dalam bentuk White blue  termasuk dalam jenis barang  yang diawasi ekspornya dengan  kode HS : 4103.20.000, sehingga dalam  ekspornya hanya dapat dilakukan dengan Persetujuan Menteri Perdagangan dalam hal ini Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan. Untuk mendapat persetujuan ekspor, perusahaan yang bersangkutan harus mengajukan permohonan tertulis kepada  Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan dengan melampirkan  rekomendasi dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Departemen Kehutanan.

Pengolahan Kulit Buaya
Sebelum dibentuk menjadi berbagai jenis produk, pengolahan kulit buaya berasal dari buaya yang telah berumur 2-3 tahun, kulit buaya mentah terlebih dahulu dicuci dan diolah.  Kulit buaya yang telah diolah diberi warna, kemudian disemprot cairan kimia agar dapat bertahan lama, kemudian kulit dijemur diruang pengeringan selama 12 jam dengan suhu 40 oC. Kulit yang telah kering lalu dipoles dan digosok dengan batu akik sehingga warnanya mengkilap dan lebih bercahaya. Setelah seluruh bahan selesai dibuat, selanjutnya dirangkai di ruang produksi sehingga menghasilkan berbagai jenis tas dan aksesoris dari kulit buaya yang berkualitas.

Selain kulit yang dapat dimanfaatkan sebagai produk dengan nilai ekonomis tinggi, daging buaya, taring/ gigi dan cakar buaya juga banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomi. Daging buaya biasanya dikonsumsi  karena dipercaya sebagai obat untuk penyakit asma maupun penyakit kulit dengan harga sekitar Rp. 35.000,-/kg- Rp.  50.000,-/kg.  Sementara itu untuk taring/ gigi biasanya digunakan untuk aksesoris dan cakar kaki buaya dimanfaatkan untuk gantungan kunci. Selain sebagai bahan baku industri  kulit, buaya juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pertunjukan yang dapat mendatangkan nilai ekonomi.
Pelestarian Buaya
Dalam daftar CITES, buaya  jenis Crocodylus novaeguineae dan C. porosus termasuk dalam Appendix II yaitu satwa yang tidak segera terancam kepunahan, tapi mungkin dapat segera terancam punah apabila tidak dilakukan pengendalian perdagangannya dan tidak menghindari pemanfaatan yang tidak sesuai dengan kemampuan hidup satwa tersebut. Oleh karena itu, perdagangan satwa yang masuk dalam Appendix  II dilakukan dengan penerapan sistem kuota.
Penangkaran buaya yang terintegrasi dengan industri kulit ditujukan untuk mengurangi ekspor kulit mentah yang dapat mengurangi nilai jual dari kulit tersebut. Dengan adanya industri pengolahan,  kulit buaya diekspor dalam bentuk produk jadi sehingga nilai jualnya lebih tinggi. Selain itu, penangkaran buaya juga dapat menjadi solusi untuk mengurangi penangkapan buaya di alam yang populasinya semakin berkurang.



Wednesday, February 03, 2016

Escargot, Menu Mewah Bekicot ala Perancis


Escargot dari Bekicot
Di Indonesia, bekicot (Achatina Spp)  dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti sate, keripik, tumis bekicot, dendeng, baso bekicot, gulai dan pepes. Tingginya kandungan protein pada bekicot juga berguna sebagai bahan pembuat biskuit pendamping ASI. Di Perancis, bekicot diolah menjadi hidangan mewah, lezat dan bergizi yang disebut Escargot d’France. Bekicot sebagai hidangan di meja makan, pertama kali diperkenalkan oleh Raja Henri IV. Masakan Perancis dari bekicot itu, telah menjadi hidangan yang sangat khas di sejumlah hotel berbintang dan tidak semua restoran Perancis menawarkan menu Escargot, hanya restoran-restoran mahal yang menyajikan menu ini. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia, karena Helix pomatia sulit diperoleh maka bekicot jenis Achatina fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.  

Sejarah penyebarannya  dan Jenis-jenis bekicot
Menurut sebagian masyarakat, bekicot merupakan hewan yang menjijikkan, kotor dan musuh para petani sehingga bekicot banyak yang dibuang dan dibunuh karena dianggap sebagai hama tanaman. Bekicot banyak ditemukan di areal persawahan, kebun, pekarangan dan tempat-tempat lembab lainnya. Bagi orang tua di Indonesia, bekicot mengingatkan mereka pada masa penjajahan Jepang yang menyengsarakan, karena pada masa itu untuk mendapatkan bahan makanan lain sangat sulit sehingga bekicot menjadi alternatif sumber pangan.
Pada awalnya, bekicot berasal dari Afrika Timur kemudian menyebar ke seluruh dunia dalam waktu yang singkat karena berkembang-biak dengan cepat. Bekicot menyebar ke arah timur sampai di Kepulauan Mauritus, India, Malaysia dan Indonesia. Bekicot sejak tahun 1933 telah ada disekitar Jakarta, sementara bekicot jenis Achatina fulicia masuk ke Indonesia sekitar tahun 1942 dan banyak terdapat di Pulau Jawa.
Bekicot merupakan hewan lunak (Mollusca) dari Klas Gastropoda yang berjalan dengan mengggunakan perutnya, memiliki cangkang dan berlendir. Secara rinci klasifikasi bekicot termasuk dalam Divisio Mollusca, klas Gastropoda, ordo Pulmonata, Famili Achatinidae dan genus Achatina. Sementara itu jenis spesies bekicot yang ada meliputi : Achatina achatina, Achatina albopicta, Achatina allisa, Achatina balteata, Achatina craveni, Achatina dammarensis, Achatina fulgurata, Achatina fulicia, Achatina glutinosa, Achatina immaculata, Achatina iostoma, Achatina iredalei, Achatina monochromatica, Achatina mulanjensis, Achatina nyikaensis, Achatina panthera, Achatina passargei, Achatina reticulata, Achatina schweinfurthi, Achatina schinziana, Achatina semisculpta, Achatina smithii, Achatina stuhlmanni, Achatina sylvatica, Achatina tavaresiana, Achatina tincta, Achatina tracheia, Achatina varicosa, Achatina variegata, Achatina vignoniana, Achatina weynsi, Achatina zanzibarica dan Achatina zebra.

Budidaya bekicot
  Saat ini, bekicot merupakan hewan yang banyak diburu karena  merupakan hewan yang   memiliki nilai gizi tinggi, permintaan pasar untuk ekspor besar dan mudah di budidayakan. Jenis bekicot yang dibudidayakan berasal dari jenis Achatina fulicia dan Achatina variegata. Ciri Achatina fulica adalah warna garis-garis pada cangkang yang tidak mencolok, berat badan antara 150-200 gram atau lebih dengan ukuran badan antara 90-130 mm, telur sekitar 100-300 butir dengan tiga sampai empat kali bertelur dalam satu  tahun. Sementara itu, Achatina variegate memiliki ciri dengan warna garis-garis pada cangkang tebal  dan berbuku-buku, berat badan sekitar 150-200 gram atau lebih dengan ukuran badan antara 90-130 mm, telur sekitar 100-300 butir dengan tiga sampai empat kali bertelur dalam satu tahun. Sentra produksi bekicot di Indonesia meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur Sumatera Utara, Bali dan Jawa Tengah.
Perkembang-biakan bekicot sangat pesat, hanya dalam jangka waktu 5-8 bulan dapat bertelur sejumlah 50-100 butir per ekornya. Setelah bertelur, induk bekicot biasanya langsung meninggalkan telur-telurnya begitu saja, tanpa dirawat, namun, angka telur yang menetas adalah sekitar 80-90 %. Telur-telur bekicot dapat menetas dengan baik, tergantung pada suhu dan kondisi keadaan tempat telur itu hidup, semakin lembab, maka semakin cepat dan banyak pula yang menetas. Makanan bayi-bayi bekicot adalah sisa-sisa pembusukan daun-daunan dan juga lumut yang ada di sekitarnya. Bekicot dapat dipanen sekitar usia 6 bulan, atau setelah bertelur dengan ukuran berat sekitar 80-100 gram tiap ekornya.

Manfaat  bekicot
Selain potensi pasar yang besar, bekicot juga memiliki kandungan nilai gizi yang tinggi, namun jarang pemanfaatannya karena keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai kandungan gizi bekicot. Kandungan zat gizi daging bekicot   per 100 gr BDD (berat dapat dimakan) antara lain: protein  12%; lemak 1 %; hidrat arang 2 %;   kalsium 237 mg ;phospor 78 mg; Fe 1, 7 mg; serta vitamin B komplek.  Selain itu kandungan asam amino daging bekicot cukup lengkap, dalam 100 gram daging bekicot kering terdiri dari leusin 4,62 gr, lisin 4,35 gr, arginin 4,88 gr, asam aspartat 5,98 gr, dan asam glutamat 8,16 gr.
Bekicot juga sering  dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging bekicot dan lendirnya diduga sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung, asma, sakit ginjal, TBC, anemia, diabetes, sembelit dan mencegah influenza, sedangkan kulit bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit bekicot, dinamakan Maulie, diklaim dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung berdebar, tidak bisa tidur/insomania dan leher membengkak.

Pengolahan bekicot
Proses pengolahan bekicot segar menjadi produk yang siap konsumsi melalui beberapa tahapan.  Pada awalnya bekicot dipuasakan selama 2-3 hari dengan tujuan agar kotoran, lendir keluar serta menghilangkan bau;  perendaman bekicot dalam air garam dengan sedikit cuka sekitar 5-10 menit yang dilakukan 3-4 kali sehingga air menjadi jernih; perebusan awal dilakukan selama 15 menit; pemisahan cangkang dengan daging dilakukan dengan mencungkilnya; pencucian daging bekicot yang telah dipisahkan dari cangkangya dilakukan dengan menggunakan air mengalir; perendaman daging bekicot selam 15 menit dengan menggunakan air cuka; daging bekicot yang telah direndam kemudian direbus kembali dan hasil yang diperoleh merupakan daging bekicot setengah jadi yang siap untuk diolah. Daging bekicot setengah jadi juga dapat dibekukan agar tahan lama. Rendeman hasil pengolahan daging  bekicot sekitar 15-18 % dari bekicot segar artinya setiap 100 kg bekicot segar  akan diperoleh daging bekicot sekitar 15-18 kg.

Pemasaran bekicot

Selama ini, Indonesia mengekspor bekicot dalam bentuk segar, beku dan asin ke negara-negara tujuan antara lain: Perancis, Amerika, Kanada, Jepang, Taiwan, Hongkong, Belanda, Yunani, Belgia, Luxemburg, Jerman dan Amerika Serikat.