Sunday, March 06, 2016

Ikan Jelawat, Pasarnya Semakin Meningkat




Klasifikasi dan Morfologi Ikan Jelawat
Ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii) merupakan jenis ikan asli Indonesia yang dapat ditemui pada beberapa sungai di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ikan jelawat termasuk dalam Genus Leptobarbus, yang  mempunyai 5 spesies yaitu Leptobarbus hoevenii, L. Hosii, L. Melanopterus, L. Melanotaenia dan L. rubripinnis. Secara umum  klasifikasi ikan jelawat meliputi Phylum Chordata, Kelas Actinopterygii, Ordo Cypriniformes, Famili Cyprinidae, Genus Leptobarbus dan Spesies Leptobarbus hoevenii.  
Secara morfologi, ikan ini memiliki bentuk tubuh agak bulat dan memanjang, kepala bagian sebelah atas agak mendatar, mulut berukuran sedang, garis literal tidak terputus, bagian punggung berwarna perak kehijauan dan bagian perut putih keperakan. Pada sirip dada dan perut terdapat warna merah, gurat sisi melengkung agak kebawah dan berakhir pada bagian ekor bawah yang tidak berwarna kemerah-merahan dan mempunyai 2 pasang sungut.

Produksi Ikan Jelawat
Ikan jelawat tidak terlalu populer seperti ikan mas dan nila, hanya dikenal pada kalangan tertentu, hal ini terjadi karena ikan jelawat tidak ditemukan di setiap daerah dan hanya ada di daerah asalnya, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pengembangbiakan ikan jelawat biasanya menggunakan karamba bambu, kayu atau jaring. Karamba ditempatkan di perairan umum dengan arus tenang yang dalamnya lebih dari dua meter pada musim kemarau.  Saat ini, produksi ikan jelawat lebih banyak mengandalkan hasil tangkapan di perairan umum. 

Pemasaran ikan jelawat
Ikan jenis ini memiliki nilai ekonomi penting karena harganya relatif cukup mahal di pasaran dan mulai jarang ditemukan di perairan umum. Ikan jelawat banyak dikonsumsi di Kalimantan, Sumatera  serta di negara   Malaysia dan Singapura. Di Kota Palangkaraya, ikan jelawat merupakan salah satu ikan favorit, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah makan. Salah satu rumah makan yang menyajikan menu ikan jelawat adalah Rumah Makan Matahari. Di Rumah Makan ini tersedia menu dari ikan jelawat diantaranya jelawat tim tauco, jelawat goreng, jelawat asam manis dan jelawat masak kecap.
Sementara itu, pasokan ikan jelawat yang dijual di Pasar Besar Palangkaraya berasal dari Kabupaten Pulang Pisau, Seruyan, Katingan dan Kotawaringin Timur. Harga ikan Jelawat di Pasar Besar Palangkaraya sekitar Rp. 35.000,- - RP. 38.000,-/kg. Jumlah pedagang ikan jelawat di Pasar Besar Palangkaraya sekitar 8 pedagang dengan penjualan rata-rata per hari sekitar 100-200 kilogram.  Di Sungai Kahayan Kota Pontianak, jelawat mulai dibudidayakan dengan menggunakan karamba. Menurut Pak Rosli salah satu pembudidaya jelawat,  ikan ini dapat dipanen setelah berumur sekitar 6-12 bulan dengan ukuran 1-2 kilogram per ekor. Satu karamba dengan ukuran 4 x 4 meter dapat menampung benih sekitar 1000 ekor. Jenis pakan yang biasa diberikan adalah dedak, bungkil, daun ubi dan pakan buatan.
Keberadaan ikan jelawat di alam mulai menurun jumlahnya, rata-rata ikan yang tertangkap hanya berukuran 2 kilogram per ekor.  Budidaya ikan jelawat perlu dikembangkan karena ikan ini banyak dicari orang, terutama orang-orang yang pernah merasakan dagingnya. Harga ikan  jelawat cukup tinggi dan dapat membawa keuntungan bagi pembudidaya dan pedagang. Selain itu juga, untuk kegiatan pelestarian karena populasi ikan jelawat sudah berkurang akibat penangkapan yang berlebihan dan tidak selektif.







Monday, February 15, 2016

Teripang, Komoditas Yang Mempunyai Nilai Ekonomi Tinggi



Teripang adalah binatang laut dari phylum Echinodermas, masih saudara jauh dengan bintang laut dan bulu babi. Di seluruh dunia, terdapat lebih dri 1250 species teripang yang dapat ditemukan mulai dari permukaan laut hingga laut dalam. Beberapa species bahkan hidupnya berbenam di pasir laut dan hanya tentakelnya yang keluar untuk menarik makanan. Untuk mempertahankan diri, teripang mempunyai cara unik yaitu mutilasi bagian tubuhnya sendiri, dimana bagian yang hilang akan segera tumbuh kembali.
Dalam perdagangan internasional, umumnya teripang dikenal dengan istilah sea cucumber atau teatfish yang sebetulnya itu hanya berlaku untuk species tertentu, sedangkan untuk produk olahannya dikenal dengan istilah beche de mer. Pasar terbesar teripang adalah etnis China, dan mereka menyebutnya sebagai haishen atau ginseng dari laut karena khasiatnya semacam tonik penguat stamina dan panjang umur. Teripang merupakan salah satu komoditi ekonomis penting  yang sangat diminati oleh konsumen terutama di negara  China, Korea, Taiwan, Singapura dan Hongkong sebagai makanan seafood  yang mengandung nilai  tinggi pengganti daging babi.  
Di Kota Surabaya, pelaku usaha pemasaran teripang melakukan ekspor teripang ke China dan Hongkong yang mencapai 10 ton per bulan, sedangkan untuk pemenuhan restoran lokal  mencapai 600 kg.  Pasokan teripang yang masuk Kota Surabaya berasal dari Madura, Situbondo, Sumbawa, Maluku, Papua, Irian Jaya, Manado, Medan, Lampung dan Makasar.  Jenis teripang yang banyak diminati oleh konsumen antara lain teripang pasir, teripang TKK, teripang susu, teripang gamat, teripang gosok, teripang nenas, teripang kapuk, teripang jepun, teripang bintik, teripang tawas, teripang raja, teripang kunyit dan  teripang batu.  Di Propinsi Jawa Barat, pengusaha teripang yang cukup besar khusus melakukan ekspor teripang dengan jenis TKK ke Korea.  Volume ekspor mencapai 1,5 ton per bulan. Pasokan teripang untuk jenis TKK ini di peroleh dari Medan, Nias, Makasar, Sumbawa, Maluku dan Ternate.

Harga teripang
Penentuan harga teripang didasarkan pada ukuran dan kualitas teripang yang ditawarkan oleh pemasok, namun untuk standar ekspor beberapa jenis teripang sudah ditentukan oleh importir. Pada saat Hari Raya Imlek kenaikan permintaan teripang mencapai 5-10 % Harga jenis teripang tersebut hanya mencapai Rp 100.000,- sampai Rp 150.000 per kg bila ukurannya kecil atau di bawah standar yang ditentukan importir. Secara umum harga teripang di pasaran cukup stabil. Ada sedikit kenaikan baik permintaan maupun harga pada high season atau hari-hari besar china, misal imlek. Harga teripang biasa yang terdiri dari kurang lebih 15 jenis kurang atau maksimal Rp 100.000,-. Untuk pasar ekspor harga masih ”dikendalikan” oleh importir.

”Kendala dalam usaha pemasaran teripang adalah dari sisi pasokan, sedang dari segi pemasaran hampir tidak ada kesulitan”. Tidak banyak nelayan yang mampu menangkap teripang secara optimal yang habitatnya di dasar laut. Untuk menangkap teripang diperlukan alat selam yang sudah barang tentu harganya mahal belum lagi biaya operasionalnya. Karena kapasitas tangkap nelayan terbatas sehingga pedagang pengumpul yang harus aktif keliling ke daerah-daerah nelayan untuk menampung hasil tangkapan mereka. Harapannya ke depan agar mutu produk tetap terjaga diperlukan - pertama, pembinaan kepada nelayan dalam proses pengolahan yang baik untuk memenuhi standar mutu – kedua, perlu diberikan pembinaan kepada nelayan atau pengumpul untuk menerapkan teknologi pembesaran teripang agar dicapai ukuran yang dikehendaki konsumen, baik dalam maupun luar negeri.

Jenis-jenis teripang  yang dipasarkan
Teripang yang dipasarkan diklasifikasikan dalam dua jenis, yaitu teripang kualitas bagus atau mahal dan kualitas biasa atau relatif murah. Klasifikasi bisa ditentukan dengan jenis teripang dan ukurannya. Untuk jenis teripang berkualitas dan mahal adalah teripang pasir, teripang susu, teripang TKK, teripang kapuk, teripang nanas, teripang sepatu, teripang jepun. Jenis teripang biasa: teripang chera, teripang bintik, teripang tawas, teripang kunyit, teripang sutera, teripang batu, teripang raja dan lain-lain yang berjumlah kira-kira 15 jenis. Produk teripang yang dipasarkan dalam bentuk kering (produk setengah jadi). Pasar ekspor yang digarap masih terbatas di beberapa negara Asia. Pasar utama ekspor teripangnya adalah Hongkong, kedua Singapura, kemudian Korsel dan Taiwan. Standar kualitas ekspor teripang ada pada tingkat kandungan garamnya, tingkat kekeringan atau kandungan air, kemudian ukurannya. Untuk permintaan lokal (jakarta dan sekitarnya) hanya berdasarkan order (by order) per bulan bisa mencapai 600 kg untuk kebutuhan restoran-restoran yang menyajikan masakan China dan beberapa supermarket tertentu. Surabaya merupakan pasar paling besar dan potensial yang berasal dari pasokan wilayah Indonesia bagian Timur untuk pasar lokal maupun untuk diekspor.




Sunday, February 14, 2016

Ikan Layang di Papua Harganya Melayang


Ikan layang (Decapterus spp) merupakan salah satu komoditi hasil laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan kaya akan gizi terutama protein. Kandungan gizi ikan layang dalam 100 gr (BDD) untuk protein 22 gr, energi 109 kkal dan lemak 1.7 gr. Ikan layang diperdagangkan dalam bentuk ikan segar dan ikan pindang. Ciri-ciri ikan layang adalah badan memanjang dan sedikit memipih; badan bagian atas berwarna kebiruan, bagian bawah berwarna keperakan; sirip ekor coklat keabu-abuan dan sirip lainnya berwarna bening.
Ikan layang di perairan Indonesia terdiri dari 4 (empat) spesies yaitu layang biasa (Decapterus ruselli), layang deles (Decapterus. macrosoma), layang ekor merah (Decapterus. Kurroides) dan layang biru (Decapterus macarellus). Ikan layang biru di Indonesia Timur diekspor ke mancanegara sebagai umpan tuna dan bahan baku ikan kaleng, sementara di pasar lokal terutama Kota Manado  umumnya diolah menjadi “karabusi”.

Sentra dan Jumlah Produksi Ikan Layang
Ikan layang merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang tersedia sepanjang tahun tanpa dipengaruhi musim, seperti  halnya ikan kembung dan lemuru. Ikan layang banyak terdapat di wilayah Sumatera Utara, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Selat Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Maluku Utara.
Ikan layang didaratkan di pelabuhan-pelabuhan diantaranya PPN Ambon, PPN Bitung, PPN Brondong Lamongan, PPN Pekalongan, PPN Prigi Trenggalek, PPS Kendari, PPN Pelabuhan Ratu, PPN Pemangkat, PPN Ternate, PPP Banjarmasin, PPP Karangantu   dan TPI Karangsong Indramayu.

Pengolahan pindang ikan layang
Ikan layang merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat dan harganya relatif murah. Untuk menjaga kesegaran dan mutu ikan, sebaiknya ikan selalu dalam kondisi dingin dengan pemberian es secukupnya. Namun demikian, es tidak selalu mudah diperoleh dan harganya murah, oleh karenanya diperlukan teknik pengawetan lain diantaranya pindang. Pengawetan ikan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga bakteri akan sulit untuk berkembangbiak.
Proses pengolahan pindang dari ikan layang meliputi: pencucian dan penyiangan ikan; penggaraman ikan; penyusunan ikan ke dalam periuk yang diselang-seling dengan garam; perendaman ikan; perebusan selama 1-2 jam; pengeluran sisa air perebusan, penaburan garam pada lapisan teratas; pemanasan diatas api kecil sampai airnya habis; pendinginan dan penutupan dengan lembaran plastik.

Pemasaran ikan layang segar
Ikan layang segar banyak dijual di Pasar Induk Jayapura, Pasar Manonda, Pasar Toli-toli dan Pasar Masumba Kota Palu. Harga ikan layang di beberapa lokasi pada bulan Januari 2008 yaitu di Pasar Induk Jayapura, harga ikan layang pada minggu pertama sampai minggu ketiga sekitar Rp. 25.000,-/kg, sedangkan pada minggu keempat relatif meningkat menjadi Rp. 30.000,-/kg. Sementara itu di Pasar Masumba dan Pasar Manonda Kota Palu, harga ikan layang relatif lebih rendah yaitu masing-masing Rp. 15.000,-/kg dan Rp. 11.000,-/kg.  Di tingkat produsen, harga ikan layang pada bulan Januari terutama di PPN Ambon sekitar Rp. 5.000,-/kg; di PPN Brondong Lamongan, harga ikan layang relatif lebih tinggi sekitar Rp. 6.500,-/kg – Rp. 8.050,-/kg; di PPN Prigi harga ikan layang yaitu Rp. 4.600,-/kg- 5.900,-. Sementara itu, produksi ikan layang di beberapa pelabuhan pada bulan Januari 2008 terutama di PPN Prigi Trenggalek yaitu 61.365 kg, sedangkan di PPN Ambon jumlah produksi sekitar 2.330 kg.  
Harga ikan di Pasar Induk Jayapura relatif lebih mahal dibandingkan dengan lokasi yang lain, hal ini terjadi karena jumlah pasokan ikan layang  relatif  berkurang akibat adanya cuaca buruk sehingga nelayan tidak berani untuk melaut, sementara permintaan ikan layang mengalami peningkatan.





Ikan Kakap, Besar di Nama dan Nilai

       Istilah ’’kakap’’  telah banyak digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang besar, tetapi belum banyak orang tahu sosok sesungguhnya ikan jenis ini kecuali bagi penggemar ikan laut yang sudah  mengetahui dan mengenalnya. Ikan kakap merupakan salah satu ikan yang memiliki potensi pasar didalam maupun di luar negeri dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Ikan kakap banyak dikonsumsi oleh masyarakat   karena dagingnya banyak dan rasanya yang gurih.

Silsilah dan Ciri-ciri Utama
Kakap merupakan ikan yang memiliki banyak jenis, menurut klasifikasinya ikan kakap termasuk dalam ordo Perciformes, sub ordo Percoidei, super famili Percoidea dan memiliki beberapa famili. Di Indonesia, ikan kakap yang umum dikonsumsi dan diperdagangkan berasal dari tiga famili yaitu Lutjanidae (kakap merah), Labotidae (kakap batu / hitam) dan Centropomidae (kakap putih).  Ketiga famili ikan kakap memiliki habitat hidup yang berbeda, untuk famili Lutjanidae hidup pada perairan laut, famili Labotidae hidup pada perairan laut dan payau, sedangkan famili Centropomidae hidup pada perairan laut, payau dan tawar. Famili Lutjanidae  terdiri dari 18 genus, 109  spesies diantaranya Lutjanus argentimaculatus, L. johnii, L. erythoptersus, L. fulviflamma, L. biguttatus, L. decussatus, L. quinquelineatus, Pinjalo lewisi;  famili Labotide terdiri dari 1 genus, 2  spesies yaitu Labotes surinamensis dan Labotes pacificus; dan famili Centropomidae terdiri dari 4 genus, 23 spesies yaitu Lates calcalifer, L. angustifrons, L. japonicus, L. microlepis, Psammoperca waigiensis dan L. niloticus. Selain dari ketiga famili yang ada, jenis ikan kakap yang berasal dari famili  Moronidae   banyak terdapat di Perairan Amerika Utara, Eropa dan Afrika. Famili Moronidae lebih  dikenal dengan seabass yang terdiri dari 5 genus, 8 spesies diantaranya Dicentrarchus labrax, Monrone chrysors, Morone americana dan Morone saxatilis.
Ikan kakap putih memiliki ciri-ciri badan memanjang, gepeng, batang sirip ekor lebar, mulut lebar, bagian atas penutup insang terdapat cuping bergerigi, sirip ekor bulat, panjang dapat mencapai 200 cm, warna punggung gelap dan sirip-siripnya berwarna abu-abu gelap. Sementara itu ciri-ciri kakap merah adalah badan memanjang, kepala lurus, bagian belakang dan bawah penutup insang bergerigi, dapat mencapai panjang sekitar 90 cm, warna bagian atas untuk jenis dewasa merah  dan terdapat totol hitam dibagian atas batang sirip ekor. Kakap batu memiliki ciri-ciri diantaranya sirip belakang berjumlah 11-12, warna  gelap, memiliki lengkung insang 6-7 dan bentuk kepala  memanjang


Produksi ikan kakap
Penyebaran ikan kakap merah di Indonesia sangat luas terutama pada perairan Sumatera, perairan Jawa-Nusa Tenggara, perairan Kalimantan, perairan Sulawesi dan Perairan Papua. Sementara itu, ikan kakap putih banyak terdapat di perairan Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jakarta, Sulawesi Tenggara dan Maluku.
Jenis kakap yang telah banyak dibudidayakan adalah kakap putih yang mempunyai nama dagang barramundi, nama yang berasal dari bahasa Aborigin.

Pemasaran Ikan Kakap
Ikan kakap banyak dijual di pasar tradisional sebagai ikan segar diantaranya Pasar Flamboyan Pontianak, Pasar Bringharjo Yogyakarta, Pasar Masomba Palu, Pasar Hamadi Jayapura, Pasar Rau Banten dan pasar tradisional lainnya. Harga ikan kakap di pasar tradisional relatif bervariasi, pada bulan Nopember di Pasar Bringharjo untuk kakap merah sekitar Rp. 26.000,-/kg; Pasar Flamboyan untuk kakap merah Rp. 33.750,-/kg, kakap putih Rp. 28.750,-/kg; dan Pasar Rejomulyo untuk kakap putih Rp. 24.000,-/kg.  Selain dijual dalam bentuk segar dipasar dalam negeri, ikan kakap juga diolah dalam bentuk fillet beku untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Negara tujuan ekspor ikan kakap meliputi Uni Eropa, Jepang, Korea, Hongkong, Taiwan, Singapura, Australia  dan Thailand.  Sejumlah pelaku masih ada yang melakukan ekspor kakap dalam bentuk utuh, padahal kemudian di pasar tujuan dijual dalam bentuk fillet. Seandainya pemiletan dilakukan di dalam negeri, tentunya nilai tambah akan diperoleh di Indonesia.
Saat ini, ikan kakap telah menjadi salah satu produk utama perikanan karena permintaannya di pasar internasional yang relatif tinggi. Di dunia, negara pengimpor utama ikan kakap meliputi  Italia, Spanyol dan Perancis. Pada tahun 2005,  impor kakap  Italia sekitar 8.416 ton; impor spanyol 4.080 ton; dan impor Perancis sekitar 1.797 ton. Sementara itu, pada tahun 2006 impor Italia mengalami penurunan menjadi 7.412; impor Perancis sekitar 1.876 ton; dan impor Spanyol sekitar 3.787 ton. Ketiga negara tersebut melakukan impor ikan kakap sebagian besar dari Yunani dan Turki. Harga ikan kakap pada tahun 2005 di pasaran Eropa sekitar 3,75 €/kg, kemudian mengalami peningkatan menjadi 4,42 €/kg pada tahun 2006 dengan ukuran sekitar 300-450 gram. Selain Italia, Spanyol dan Perancis, Amerika Serikat juga melakukan impor kakap dalam bentuk segar dan beku dari Chili, Argentina, Uruguay dan Australia. Impor ikan kakap Amerika Serikat pada tahun 2003 sekitar 16.501; 2004 sekitar 16.081 ton; tahun 2005 sekitar 18.572 ton; tahun 2006 sekitar 17.745 ton; dan tahun 2007 sekitar 19.091 ton.







Pipefish, Ikan Hias dan Bahan Obat



Ciri dan klasifikasi Pipefish
Pipefish merupakan saudara dekat dengan seahorse dan seadragons yang termasuk dalam satu famili yaitu Syngnathidae. Pipefish (ikan pipa)  merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di dunia, penyebaran pipefish meliputi Samudera Pasifik, Laut Merah, perairan Australia terutama jenis S. dunckeri,   Perairan Laut China Selatan terdapat jenis S. hardwickii. Sejak tahun 2002, produksi  pipefish di perairan  utara Inggris, Norwegia, Islandia dan Kepulauan Faoeroe mengalami peningkatan sekitar 50-100 kali lipat. Sementara itu di Indonesia, pipefish banyak terdapat di perairan timur Indonesia terutama Maumere, Makassar dan Papua.
Secara klasifikasi, Pipefish termasuk dalam Filum: Chordata, Klas: Actinopterygii, Ordo: Gasterosteiformes; Family Syngnathidae;Pipefish memiliki ciri-ciri antara lain badannya berbentuk silinder dan agak kaku, badan terbungkus dengan cincin bertulang, kepalanya kecil, sebagian besar berwarna kehijau-hijauan sampai kecoklatan dan ukurannya dapat mencapai 18 inci. Pipefish biasanya memakan binatang kecil seperti fitoplankton, zooplankton  yang ada diperairan, serta tempat hidupnya banyak terdapat pada karang   dan laguna dengan kedalaman sekitar 8 m.

Etnis China, Pasar Potensial Pipefish
Di Negara China, Hongkong Singapura dan Taiwan, pipefish banyak dimanfaatkan sebagai bahan ramuan untuk pengobatan tradisional seperti ginjal, penyakit kulit, penyakit getah bening, untuk stamina dan asma. Sementara itu di negara Eropa, Jepang dan Amerika Utara, pipefish banyak dimanfaatkan sebagai ikan hias pada aquarium karena bentuknya yang unik serta warnanya yang indah.
China, Taiwan, Hongkong dan Singapura merupakan negara importir utama pipefish. Pada tahun 1998,Hongkong telah mengimpor pipefish sekitar 12 ton yang berasal dari India, Filipina, Australia dan Malaysia, sementara itu, Taiwan telah mengimpor sekitar 16,6 ton pipefish kering. Negara pengekspor pipefish diantaranya adalah Australia, Belize, Brazil, Ekuador, India, Indonesia, Kuwait, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Spanyol, Sri Lanka, Thailand, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat dan Vietnam.


Pelaku usaha pemasaran Pipefish

Salah satu pelaku usaha pemasaran pipefish di Kota Surabaya telah menekuni usaha ini mulai dari tahun 1994. Pipefish (ikan pipa) diperoleh dari wilayah Maumere dalam bentuk kering. Dalam satu bulan, mampu memasok pipe fish  kering sekitar 500 kg yang kemudian di jual ke pengekspor dengan tujuan Singapura, Malaysia, Vietnam dan Hongkong. Harga satu kilogram pipefish kering untuk pasar lokal sekitar Rp. 150 ribu, sementara untuk pasar ekspor sekitar Rp. 280 - Rp.300 ribu.  Satu kilogram pipefish basah menghasilkan 0,5 ons pipefish kering atau mengalami penyusutan sekitar 95 %.  Pipefish biasanya tertangkap pada saat nelayan menjaring ikan  dan pipefish masih dijadikan sebagai tangkapan sampingan setelah ikan. Puncak produksi pipefish terjadi pada saat musim hujan, sehingga produksinya melimpah. 

Ikan Terbang, Harga Telurnya Melayang




Ciri-ciri dan Klasifikasi
Ikan terbang merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang banyak ditemukan diperairan tropis maupun sub tropis dengan kondisi perairan tidak keruh dan berlumpur. Ikan terbang merupakan ikan yang memiliki banyak jenis, menurut klasifikasinya ikan terbang termasuk dalam Klas Actinopterygii, Subklas Neopterygii, Super ordo Acanthopterygii, Ordo Beloniformes, Sub Ordo Belonoidei, Famili Exocoetidae dan memiliki 9 genus. Ikan terbang dari genus Cheilopogon terdiri 33 spesies diantaranya Cheilopogon ebei, C. agoo; genus  Cypselurus terdiri dari 12 spesies diantaranya Cypselurus angusticeps, C. callopterus; genus  Danichthys terdiri dari 1 spesies yaitu Danichthys ilma;  genus Exocoetus terdiri dari  5 spesies diantaranya Exocoetus gibbosus dan E. monocirrhus; genus  Fodiator terdiri dari  2 spesies yaitu  Fodiator acutus dan F.  rostratus; genus Hirundichthys terdiri dari 8 spesies diantaranya Hirundichthys oxycephalus dan H. rondeletii; genus  
  Ikan terbang memiliki ciri-ciri yaitu panjang rata-rata 18 cm, tubuhnya bulat memanjang, bagian atas tubuh berwarna gelap, bagian bawah tubuh mengkilap, sirip dorsal dan anal transparan, sirip ekor abu-abu, sirip ventral keabu-abuan di bagian atas dan terang di bagian bawah, sirip pectoral abu-abu tua dengan belang-belang pendek. Duri- duri lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, pada sirip anal 1-12, pada sirip pectoral 14-15 dengan sirip pertama tidak bercabang, sirip ventral tidak mencapai sirip dorsal dengan pangkal sirip ventral lebih dekat ke ujung posterior kepala daripada ke pangkal ekor, garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh. Sisik sikloid berukuran relatif besar dan mudah lepas dengan sisik pradorsal 32-37 dan jumlah sisik pada poros tubuh 51-56.


Produksi Ikan Terbang
Di Indonesia, terdapat 18 jenis ikan terbang dan 10 diperkirakan hidup diperairan Sulawesi Selatan diantaranya jenis Hirundichthys oxycephalus. Selain perairan Sulawesi Selatan, ikan terbang juga banyak ditemukan pada perairan Laut Flores, Laut Natuna, Laut Aru, Laut Arafura Irian Jaya, Bagian Utara Sulawesi Utara, Perairan Selatan Bali dan Jawa Timur, Pantai Barat Sumatera Barat, Laut Halmahera, Laut Banda, perairan  Sabang  Ujung Banda Aceh dan Laut Utara Papua.  

Pemasaran Telur Ikan Terbang

Selama ini ikan terbang banyak dipasarkan dalam bentuk segar, ikan asin, ikan asap dan telurnya saja yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  Telur ikan terbang belum banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, padahal kandungan gizi yang relatif tinggi sangat bermanfaat.  Harga yang tinggi menjadikan  nelayan  lebih memilih untuk menjual telur ikan hasil tangkapan dibandingkan  mengkonsumsinya.
Ikan terbang biasanya melakukan pemijahan pada bulan Juni- Agustus sehingga nelayan di daerah Sulawesi Selatan banyak melakukan penangkapan telur dengan menggunakan bubu. Satu ekor ikan terbang dalam sekali memijah dapat menghasilkan telur sekitar 4000 s/d 9000 butir.  Pemijahan ikan terbang bersifat pelagophils dan pytophils, yaitu meletakkan telurnya pada tumbuhan dan benda-benda terapung di permukaan laut seperti daun-daun kering.
Telur ikan terbang telah lama menjadi komoditas ekspor  dengan negara tujuan seperti Jepang, Korea, Hongkong, Taiwan, Singapura, Lithunia, Thailand, Vietnam, China, Hongkong dan Rusia.  Nilai Impor telur ikan terbang tahun 2006 pada beberapa Negara yaitu:
Sulawesi Selatan merupakan salah satu penghasil telur ikan terbang yang telah melakukan ekspor ke beberapa negara. Ekspor telur ikan terbang Sulawesi Selatan selama tahun 2006 menghasilkan devisa sebesar 8,702 juta US $ dengan volume 370,1 ton atau meningkat 13, 56 %  dari tahun 2005  yang dengan volume 325,9  ton senilai 4, 3 juta US$.
Telur ikan terbang yang berwarna kuning keemasan menjadi komoditas ekspor dengan harga relatif tinggi dalam kondisi kering. Harga telur ikan terbang untuk kualitas A sekitar Rp. 180 ribu/kg; kualitas B sekitar Rp. 160 ribu/kg; dan kualitas C sekitar Rp. 120 ribu/kg. Tingginya harga telur ikan terbang menjadi buruan para nelayan sehingga populasinya mulai berkurang. Penataan volume tangkapan telur ikan terbang perlu dilakukan guna mempertahankan atau bahkan meningkatkan populasinya.


Saturday, February 13, 2016

Kerang Hijau Sebagai Sumber Protein Yang Relatif Murah




Kebutuhan kerang tiap tahun selalu meningkat terutama untuk memenuhi kebutuhan bagi negara-negara Eropa seperti Italia, Perancis dan Jerman. Sampai saat ini kebutuhan kerang masih dipenuhi oleh negara Chili, Irlandia, Denmark, Spanyol, New Zealand dan Turkey. Jenis-jenis kerang yang umum di kenal oleh masyarakat adalah kerang hijau (Perna viridis), kerang bulu dan kerang darah (Anadara granosa).
Kerang hijau merupakan salah satu komoditi perikanan yang sudah lama dikenal sebagai sumber protein hewani yang relatif murah, selain kerang bulu dan kerang darah.  Harga daging kerang hijau di pasaran sekitar Rp. 15.000,- /kg dengan kandungan gizi antara lain : protein 18,3%, karbohidrat 2%, lemak, 0,45%, air 78%, dan beberapa mineral yaitu kalsium 133 mg dan fosfor 170 mg.   Kerang hijau hidup pada perairan payau sampai asin yang memiliki sifat menempel pada benda-benda yang ada di sekitarnya.  Kerang hijau yang baik memiliki daging berwarna kuning kecoklatan, sedangkan  ciri khas dari kerang hijau yang masih hidup adalah  akan segera menutupkan kedua cangkangnya apabila disentuh.

Budidaya Kerang Hijau
Budidaya kerang hijau telah banyak dilakukan pada wilayah Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat dan Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Pada saat musim, produksi kerang hijau di Kecamatan Cilincing  dapat mencapai 240 ton per hari, sedangkan pada hari biasa produksinya mencapai 54 ton per hari. Di Kabupaten Cirebon, menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan  Kabupaten Cirebon bahwa produksi kerang mengalami peningkatan sekitar 3,88 %  dari 9.644 ton pada tahun 2004 menjadi 10.032 ton pada tahun 2006.
Kecamatan Panimbang merupakan salah satu lokasi budidaya kerang hijau yang potensial karena di wilayah tersebut perairan masih belum tercemar oleh limbah industri dan relatif aman dari angin barat yang merupakan kendala utama dalam budidaya kerang. Luas areal budidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang ± 100 ha dengan jumlah bagan ± 50 unit. Kerang hijau dapat dibudidayakan selama 6 bulan, mulai dari penempelan benih sampai dengan panen. Di Kecamatan Panimbang, budidaya kerang hijau dimulai pada tahun 2003 yang terbagi menjadi 3 lokasi yaitu Cipaton, Panimbang Jaya dan Sidamukti. Pembudidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang, tergabung dalam kelompok tani sebanyak 10 kelompok yang tiap anggotanya terdiri dari 5 pembudidaya. Produksi kerang hijau dari Kecamatan Panimbang per musim  panen dapat mencapai 300  ton. Pemasaran kerang hijau hasil produksi dari Kecamatan Panimbang dilakukan ke wilayah Jakarta dan Tangerang.

Pengolahan Kerang Hijau
Pengolahan kerang hijau banyak dilakukan di wilayah Kelurahan Kalibaru Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Jumlah pengolah kerang hijau di Kelurahan Kalibaru sekitar 60 pengolah.  Pada saat musim panen, jumlah kerang hijau yang diolah dalam satu hari  dapat mencapai 100 karung per pengolah, dimana 1 karung berisi 40 kg kerang hijau. Musim Kerang hijau biasanya terjadi pada bulan Juni-Oktober. Harga kerang hijau per ember di tingkat nelayan  sekitar Rp. 10.000,- /kg, sedangkan di tingkat pedagang mencapai Rp. 15.000,- /kg.
 Proses pengolahan kerang meliputi pemisahan  kerang dari kotoran yang ada, kemudian pencucian kerang sampai bersih, perebusan dengan menggunakan kompor selama 1-1,5 jam dan pengupasan kerang untuk mengeluarkan dagingnya. Jenis olahan kerang yang ada di pasaran terbagi menjadi dua yaitu olahan kerang yang sudah dikupas dan olahan   rebusan kerang yang masih terdapat cangkang.

Pemasaran Kerang Hijau
Pemasaran   kerang yang telah dikupas cangkangnya biasanya dilakukan ke Pasar Muara Baru dengan volume penjualan daging kerang pada saat musim  mencapai 20-30 ton per malam, sedangkan pemasaran olahan kerang yang masih terdapat cangkang dilakukan oleh pedagang  dengan menggunakan gerobak keliling ke wilayah Jakarta. Utara dan Jakarta Timur dengan jumlah pedagang sekitar 500 pedagang. Pemasaran kerang yang masih mentah dari Kecamatan Cilincing  Jakarta Utara biasanya di pasarkan ke pasar tradisional yang ada di Jakarta, Tangerang, Bandung dan Cirebon.
Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya. Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.